Saturday, April 4, 2020
Thursday, December 6, 2012
Katarak
Katarak
Definisi
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat penambahan cairan di lensa, pemecahan protein lensa, atau kedua-duanya.
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat penambahan cairan di lensa, pemecahan protein lensa, atau kedua-duanya.
Katarak
merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat diobati di dunia pada saat ini.
Sebagian besar katarak timbul pada usia tua sebagai akibat pajanan terus menerus
terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh lainnya seperti merokok, radiasi
ultraviolet, dan peningkatan kadar gula darah. Katarak ini disebut sebagai
katarak senilis (katarak terkait usia). Sejumlah kecil berhubungan dengan
penyakit mata (glaukoma, ablasi, retinitis pigmentosa, trauma, uveitis, miopia
tinggi, pengobatan tetes mata steroid, tumor intraokular) atau penyakit sistemik
spesifik (diabetes, galaktosemia, hipokalsemia, steroid atau klorpromazin
sistemik, rubela kongenital, distrofi miotonik, dermatitis atopik, sindrom Down,
katarak turunan, radiasi sinar X).
Pasien
dengan katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan
menurun. Secara umum, penurunan tajam penglihatan berhubungan langsung dengan
kepadatan katarak.
Epidemiologi
Penelitian-penelitian di Amerika
Serikat mengidentifikasi adanya katarak pada sekitar 10% orang, dan angka
kejadian ini meningkat hingga sekitar 50% untuk mereka yang berusia antara 65
sampai 74 tahun, dan hingga sekitar 70% untuk mereka yang berusia lebih dari 75
tahun.
Sperduto
dan Hiller menyatakan bahwa katarak ditemukan lebih sering pada wanita dibanding
pria. Pada penelitian lain oleh Nishikori dan Yamomoto, rasio pria dan wanita
adalah 1:8 dengan dominasi pasien wanita yang berusia lebih dari 65 tahun dan
menjalani operasi katarak.
Gejala
dan Tanda
Gejala utama yang dijumpai adalah penglihatan berkabut dan penglihatan yang semakin kabur. Pada gejala awal dapat terjadi penglihatan jauh kabur sedangkan penglihatan dekat sedikit membaik dibandingkan sebelumnya (second sight). Bila kualitas lensa memburuk atau terjadi kelelahan maka second sight ini akan menghilang. Gejala lain yang dijumpai pada katarak senilis adalah penigkatan rasa silau (glare). Pada lensa mata penderita katarak akan tampak bayangan putih. Selain itu dapat pula terjadi pandangan ganda, rabun senja dan terkadang membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk membaca.
Gejala utama yang dijumpai adalah penglihatan berkabut dan penglihatan yang semakin kabur. Pada gejala awal dapat terjadi penglihatan jauh kabur sedangkan penglihatan dekat sedikit membaik dibandingkan sebelumnya (second sight). Bila kualitas lensa memburuk atau terjadi kelelahan maka second sight ini akan menghilang. Gejala lain yang dijumpai pada katarak senilis adalah penigkatan rasa silau (glare). Pada lensa mata penderita katarak akan tampak bayangan putih. Selain itu dapat pula terjadi pandangan ganda, rabun senja dan terkadang membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk membaca.
Pemeriksaan
Pada pasien katarak, dapat dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan biasanya akan sangat berkurang.
Pada pasien katarak, dapat dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan biasanya akan sangat berkurang.
Tata
laksana
Satu-satunya terapi untuk pasien katarak adalah bedah katarak dimana lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular :
Satu-satunya terapi untuk pasien katarak adalah bedah katarak dimana lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular :
- Ekstraksi
intrakapsular (ICCE). Tehnik ini jarang dilakukan lagi
sekarang.
- Ekstraksi
ekstrakapsular (ECCE). Pada tehnik ini, bagian depan kapsul dipotong dan
diangkat, lensa dibuang dari mata, sehingga menyisakan kapsul bagian belakang.
Lensa intraokuler buatan dapat dimasukkan ke dalam kapsul tersebut. Kejadian
komplikasi setelah operasi lebih kecil kalau kapsul bagian belakang
utuh.
- Fakofragmentasi dan
fakoemulsifikasi. Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan
getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat lensa melalui irisan yang kecil (2-5
mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi. Teknik ini kurang
efektif pada katarak yang padat.
Katarak
biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun dan pasien mungkin meninggal
sebelum diperlukan pembedahan. Apabila diperlukan pembedahan maka pengangkatan
lensa akan memperbaiki ketajaman penglihatan pada >90% kasus. Sisanya mungkin
telah mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius
misalnya glaukoma, ablasio retina, atau infeksi yang mengambat pemulihan daya
pandang. Adanya lensa intraokular dan lensa kontak kornea menyebabkan
penyesuaian penglihatan setelah operasi katarak menjadi lebih mudah dibandingkan
sewaktu hanya tersedia kacamata katarak yang tebal.
Polip Hidung
Polip
Hidung
DEFINISI
Polip nasi
atau polip hidung adalah kelainan selaput permukaan hidung berupa massa lunak
yang bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan dengan
permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak
cairan.
Kelainan
pada hidung biasanya timbul karena manifestasi dari penyakit yang lain dan tidak
berdiri sendiri, penyakit ini sering dihubungkan dengan astma, rhinitis
alergika, dan sinusitis, di luar negeri sendiri penyakit ini sering dihubungkan
dengan seringnya penggunaan aspirin.
ETIOLOGI DAN
PATOGENESIS
Etiologi pasti hingga sekarang belum diketahui, tetapi terdapat 3 faktor penting yang berperan di dalam terjadinya polip, yaitu
Etiologi pasti hingga sekarang belum diketahui, tetapi terdapat 3 faktor penting yang berperan di dalam terjadinya polip, yaitu
- Peradangan
lama dan berulang pada selaput permukaan hidung dan sinus
- Gangguan
keseimbangan Vasomotor
- Peningkatan tekanan cairan antar
ruang sel dan bengkak selaput permukaan hidung
Fenomena
bernouli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui celah yang sempit akan
mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya, sehingga jaringan yang
lemah akan terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga menyebabkan polip,
fenomena ini dapat menjelaskan mengapa polip banyak terjadi pada area yang
sempit di kompleks osteomatal.
Patogenesis polip pada awalnya
ditemukan bengkak selaput permukaan yang kebanyakan terdapat pada meatus medius,
kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga selaput permukaan
yang sembab menjadi berbenjol-benjol. Bila proses terus membesar dan kemudian
turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai sehingga terjadi
Polip
GEJALA
DAN TANDA
Pada
anamnesis kasus polip biasanya timbul keluhan utama adalah hidung
tersumbat. sumbatan ini menetap dan tidak hilang timbul. Semakin lama
keluhan dirasakan semakin berat. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di
dalam hidung dan sukar membuang ingus. Gejala lain adalah hiposmia
(gangguan penciuman). Gejala lainnya dapat timbul jika teradapat
kelainan di organ sekitarnya seperti post nasal drip (cairan yang mengalir
di bagian belakang mulut), suara bindeng, nyeri muka, telinga terasa penuh,
snoring (ngorok), gangguan tidur dan penurunan kualitas
hidup.
Secara
pemeriksaan mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan selaput permukaan
hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan subselaput permukaan
yang sembab.
Dengan
pemeriksaan rhinoskopi anterior biasanya polip sudah dapat
dilihat, polip yang masif seringkali menciptakan kelainan pada hidung bagian
luar. Pemeriksaan Rontgen dan CT scan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya
sinusitis.
PENATALAKSANAAN
Pengobatannya berupa terapi
obat-obatan dan operasi. Terapi medikamentosa ditujukan pada polip yang masih
kecil yaitu pemberian kortikosteroid sistemik yang diberikan dalam jangka waktu
singkat, dapat juga diberiksan kortikosteroid hidung atau kombinasi
keduanya.
Tindakan
pengangkatan polip dapat digunakan menggunakan senar polip dan anestesi lokal.
Untuk polip yang besar dan menyebabkan kelainan pada hidung, memerlukan jenis
operasi yang lebih besar dan anestesi umum
Campak
Campak
Definisi
Campak,
measles atau rubeola adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus
campak. Penyakit ini sangat infeksius, menular sejak awal masa prodromal sampai
lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam. Infeksi disebarkan lewat udara
(airborne).
Patofisiologi
Virus
campak ditularkan lewat infeksi droplet lewat udara, menempel dan berkembang
biak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi
berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus
menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah
5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan
dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema,
bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada
epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and
conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk,
pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari
penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna
kemerahan.Virus dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan
gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan
hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah
menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada
awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi
limfosit.
Gejala
klinis
- Panas
meningkat dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-5, pada saat ruam
keluar
- Coryza
yang terjadi sukar dibedakan dengan common cold yang berat. Membaik dengan cepat
pada saat panas menurun.
- Conjunctivitis ditandai dengan
mata merah pada conjunctiva disertai dengan keradangan disertai dengan keluhan
fotofobia.
- Cough
merupakan akibat keradangan pada epitel saluran nafas, mencapai puncak pada saat
erupsi dan menghilang setelah beberapa minggu.
- Munculnya
Koplik’s spot umumnya pada sekitar 2 hari sebelum munculnya ruam (hari ke 3-4)
dan cepat menghilang setelah beberapa jam atau hari. Koplik’s spot adalah
sekumpulan noktah putih pada daerah epitel bucal yang merah (a grain of salt in
the sea of red), yang merupakan tanda klinik yang patognomonik untuk
campak.
- Ruam
makulopapular semula bewarna kemerahan. Ruam ini muncul pertama pada daerah
batas rambut dan dahi, serta belakang telinga, menyebar ke arah perifer sampai
pada kaki. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dada menjadi
confluent. Ruam ini membedakan dengan rubella yang ruamnya discrete dan tidak
mengalami desquamasi. Telapak tangan dan kaki tidak mengalami
desquamasi.
Diagnosis
Diagnosis
ditetapkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan Pemeriksaan
serologik atau virologik yang positif yaitu bila terdapat demam tinggi terus
menerus 38,50 C atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah dan
silau bila kena cahaya (fotofobia), seringkali diikuti diare. Pada hari ke 4-5
demam, timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari
semula. Pada saat ini anak dapat mengalami kejang demam. Saat ruam timbul, batuk
dan diare bertambah parah sehingga anak mengalami sesak nafas atau
dehidrasi.
Gejala
klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari tiga stadium
:
- Stadium
prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam yang diikuti dengan
batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis.
Tanda patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut
bercak Koplik.
- Stadium
erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-papular yang bertahan selama 5-6
hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian
menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstrimitas.
- Stadium
penyembuhan (konvalesens), setelah 3 hari ruam berangsur-angsur menghilang
sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan
menghilang setelah 1-2 minggu.
- Sangat
penting untuk menentukan status gizi penderita, untuk mewaspadai timbulnya
komplikasi. Gizi buruk merupakan risiko komplikasi berat.
Pemeriksaan
penunjang
- Darah tepi
: jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi
bakteri
- Pemeriksaan antibodi IgM anti
campak
- Pemeriksaan untuk komplikasi
:
- Ensefalopati/ensefalitis :
dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis, kadar elektrolit darah dan
analisis gas darah
- Enteritis
: feses lengkap
- Bronkopneumonia : dilakukan
pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah.
- Pemeriksaan untuk komplikasi
:
Komplikasi
- Campak
menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak yang lebih
kecil
- Diare
dapat diikuti dehidrasi
- Otitis
media
- Laringotrakeobronkitis
(croup)
- Bronkopneumonia
- Ensefalitis
akut,
- Reaktifasi
tuberkulosis
- Malnutrisi
pasca serangan campak
- Subacute
sclerosing panencephalitis (SSPE), suatu proses degeneratif susunan syaraf pusat
dengan gejala karakteristik terjadi deteriorisasi tingkah laku dan intelektual,
diikuti kejang. Disebabkan oleh infeksi virus yang menetap, timbul beberapa
tahun setelah infeksi merupakan salah satu komplikasi campak onset
lambat.
Penatalaksanaan
- Pengobatan
bersifat suportif, terdiri dari :
- Pemberian
cairan yang cukup
- Kalori
yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan
adanya komplikasi
- Suplemen
nutrisi
- Antibiotik
diberikan apabila terjadi infeksi sekunder
- Anti
konvulsi apabila terjadi kejang
- Pemberian
vitamin A.
- Pemberian
cairan yang cukup
- Indikasi
rawat inap : hiperpireksia (suhu > 39,00 C), dehidrasi, kejang, asupan oral
sulit, atau adanya komplikasi.
- Campak
tanpa komplikasi :
- Hindari
penularan
- Tirah
baring di tempat tidur
- Vitamin A
100.000 IU, apabila disetai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap
hari
- Diet
makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan
tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi
- Hindari
penularan
- Campak
dengan komplikasi :
- Ensefalopati/ensefalitis
- Antibiotika bila diperlukan,
antivirus dan lainya sesuai dengan PDT ensefalitis
- Kortikosteroid, bila diperlukan
sesuai dengan PDT ensefalitis
- Kebutuhan
jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan
elektrolit
- Antibiotika bila diperlukan,
antivirus dan lainya sesuai dengan PDT ensefalitis
- Bronkopneumonia
:
- Antibiotika sesuai dengan PDT
pneumonia
- Oksigen
nasal atau dengan masker
- Koreksi
gangguan keseimbangan asam-basa, gas darah dn elektrolit
- Antibiotika sesuai dengan PDT
pneumonia
- Enteritis
: koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi (lihat Bab enteritis
dehidrasi).
- Pada kasus
campak dengan komplikasi bronkhopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau
terhadap adanya infeksi TB laten. Pantau gejala klinis serta lakukan uji
Tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan.
- Pantau
keadaan gizi untuk gizi kurang/buruk.
- Ensefalopati/ensefalitis
Pencegahan
Imunisasi
campak termasuk dalam program imunisasi nasional sejak tahun 1982, angka cakupan
imunisasi menurun < 80% dalam 3 tahun terakhir sehingga masih dijumpai daerah
kantong risiko tinggi transmisi virus campak
Cacar Air pada Anak
Cacar
Air pada Anak
Penyebab
Penyebabnya adalah
virus varicella-zoster.
Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit.
Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang terakhir telah mengering. Karena itu, untuk mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi (diasingkan).
Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh manusia, lalu kadang menjadi aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.
Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit.
Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang terakhir telah mengering. Karena itu, untuk mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi (diasingkan).
Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh manusia, lalu kadang menjadi aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.
Gejala dan tanda
Pada anak-anak yang berusia diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala, demam sedang dan rasa tidak enak badan, nafsu makan menurun. Gejala tersebut biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih muda, gejala pada dewasa biasanya lebih berat.
24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul bintik-bintik merah datar (makula). Kemudian bintik tersebut menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal, yang akhirnya akan mengering. Proses ini memakan waktu selama 6-8 jam. Selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan lepuhan yang baru.
Pada hari kelima, biasanya sudah tidak terbentuk lagi lepuhan yang baru, seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam dan menghilang dalam waktu kurang dari 20 hari.
Papula di wajah, lengan dan tungkai relatif lebih sedikit; biasanya banyak ditemukan pada batang tubuh bagian atas (dada, punggung, bahu). Bintik-bintik sering ditemukan di kulit kepala.
Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus), yang seringkali menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga bisa ditemukan di kelopak mata, saluran pernafasan bagian atas, rektum dan vagina.
Papula pada pita suara dan saluran pernafasan atas kadang menyebabkan gangguan pernafasan.
Bisa terjadi pembengkaan kelenjar getah bening di leher bagian samping.
Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada, hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata.
Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus.
Komplikasi
Anak-anak biasanya sembuh dari
cacar air tanpa masalah. Tetapi pada orang dewasa maupun penderita gangguan
sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat
fatal.
Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah:
- -
Pneumonia karena virus
- Peradangan jantung
- Peradangan sendi
- Peradangan hati
- Ensefalitis (infeksi otak)
- Sindrom Reye
- Purpura
- Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa).
- Peradangan jantung
- Peradangan sendi
- Peradangan hati
- Ensefalitis (infeksi otak)
- Sindrom Reye
- Purpura
- Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa).
Diagnosa
Diagnosis
ditegakkan berdasarkan ruam kulit yang khas (makula, papula, vesikel dan
keropeng).
Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan
leukosit biasanya mennjukkan hasil yang normal, rendah, atau meningkat sedikit.
Multinucleated giant cells pada pemeriksaan Tzanck smear dari
lepuhan kulit. Hasil positif pada pemeriksaan kultur jaringan.
Pengobatan
Pengobatan yang
diberikan biasanya berupa pengobatan suportif/ simptomatik dan menjaga higienis
yang baik agar terhindar dari infeksi sekunder.
Pada anak usia
sekolah sebaiknya diistirahatkan dulu dirumah, guna mencegah penularan terhadap
teman-teman di sekolahnya. Dan boleh masuk kembali apabila keropengnya sudah
mengering dan demamnya sudah turun.
Dapat digunakan
obat-obatan antipiretik untuk mengurangi demam, namun sebaiknya menghindari
penggunaan aspirin, karena dapat menyebabkan sindrom Reye.
Untuk
mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit dikompres
dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya
yang mengandung mentol atau fenol
Untuk mengurangi
resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya:
- kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun
- menjaga kebersihan tangan
- kuku dipotong pendek
- pakaian tetap kering dan bersih.
Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin).
Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.
Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus asiklovir.
Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi beratnya penyakit jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang pertama.
- kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun
- menjaga kebersihan tangan
- kuku dipotong pendek
- pakaian tetap kering dan bersih.
Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin).
Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.
Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus asiklovir.
Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi beratnya penyakit jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang pertama.
Obat alernatif
lainnya yaitu: Famsiklovir, valasiklovir, vidarabin dan interferon
Pencegahan
Untuk mencegah
cacar air diberikan suatu vaksin.
Kepada orang yang belum pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster.
Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.
Kepada orang yang belum pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster.
Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.
ABORSI
Aborsi
Definisi
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan
istilah “abortus” adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia 20 minggu kehamilan
atau berat bayi kurang dari 500 g (ketika janin belum dapat hidup di luar
kandungan).1 Angka kejadian aborsi meningkat dengan bertambahnya
usia dan terdapatnya riwayat aborsi sebelumnya. Proses abortus dapat berlangsung
secara :
- Spontan / alamiah (terjadi secara alami, tanpa tindakan
apapun)
- Buatan / sengaja (aborsi yang dilakukan secara sengaja),
- Terapeutik / medis (aborsi yang dilakukan atas indikasi medik karena
terdapatnya suatu permasalahan atau komplikasi).
Frekuensi terjadinya aborsi di Indonesia sangat sulit dihitung secara
akurat karena banyaknya kasus aborsi buatan / sengaja yang tidak dilaporkan.
Berdasarkan perkiraan dari BKBN, ada sekitar 2 juta kasus aborsi yang terjadi
setiap tahunnya. Pada penelitian di Amerika Serikat terdapat 1,2 – 1,6 juta
aborsi yang disengaja dalam 10 tahun terakhir dan merupakan pilihan wanita
Amerika untuk kehamilan yang tidak diinginkan. Secara keseluruhan, di seluruh
dunia, aborsi adalah penyebab kematian yang paling utama dibandingkan kanker
maupun penyakit jantung.
Alasan
Aborsi yang dilakukan seorang wanita hamil memiliki berbagai macam
alasan, baik alasan medis maupun alasan non medis. Menurut studi dari Aida
Torres dan Jacqueline Sarroch Forrest (1998), menyatakan bahwa hanya 1 % kasus
aborsi karena perkosaan atau incest (hubungan intim satu darah), 3 % karena
membahayakan nyawa calon ibu, dan 3 % karena janin akan tumbuh dengan cacat
tubuh yang serius. Sedangkan 93 % kasus aborsi lainnya adalah karena
alasan-alasan non medis diantaranya adalah tidak ingin memiliki anak dengan
alasan takut mengganggu karir atau sekolah, tidak memiliki cukup uang untuk
merawat anak, dan tidak ingin memiliki anak tanpa ayah.
Penyebab
Penyebab abortus spontan bervariasi meliputi infeksi, faktor hormonal,
kelainan bentuk rahim, faktor imunologi (kekebalan tubuh), dan penyakit dari
ibu. Penyebab abortus pada umumnya terbagi atas faktor janin dan faktor
ibu.
Faktor Janin
Pada umumnya abortus spontan yang terjadi karena faktor janin disebabkan
karena terdapatnya kelainan pada perkembangan janin [seperti kelainan kromosom
(genetik)], gangguan pada ari-ari, maupun kecelakaan pada janin. Frekuensi
terjadinya kelainan kromosom (genetik) pada triwulan pertama berkisar sebesar
60%.
Faktor ibu
Beberapa hal yang berkaitan dengan faktor ibu yang dapat menyebabkan
abortus spontan adalah faktor genetik orangtua yang berperan sebagai
carrier (pembawa) di dalam kelainan genetik; infeksi pada kehamilan
seperti herpes simpleks virus, cytomegalovirus, sifilis, gonorrhea; kelainan
hormonal seperti hipertiroid, kencing manis yang tidak terkontrol; kelainan
jantung; kelainan bawaan dari rahim, seperti rahim bikornu (rahim yang bertanduk), rahim yang bersepta
(memiliki selaput pembatas di dalamnya) maupun parut rahim akibat riwayat kuret
atau operasi rahim sebelumnya. Mioma pada rahim
juga berkaitan dengan angka kejadian aborsi spontan.
Faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya abortus adalah
:
- Usia ibu yang lanjut
- Riwayat kehamilan sebelumnya yang kurang baik
- Riwayat infertilitas (tidak memiliki anak)
- Adanya kelainan atau penyakit yang menyertai kehamilan
- Infeksi (cacar, toxoplasma, dll)
- Paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat-obatab, alkohol,
radiasi)
- Trauma pada perut atau panggul pada 3 bulan pertama
kehamilan
- Kelainan kromosom (genetik)
Tanda dan Gejala
- Nyeri perut bagian bawah
- Keram pada rahim
- Nyeri pada punggung
- Perdarahan dari kemaluan
- Pembukaan leher rahim
- Pengeluaran janin dari dalam rahim
Proses abortus sendiri terbagi atas :
Abortus imminens
Abortus imminens adalah terjadinya perdarahan dari rahim sebelum
kehamilan mencapai usia 20 minggu, dimana janin masih berada di dalam rahim dan
tanpa disertai pembukaan dari leher rahim. Apabila janin masih hidup maka
kehamilan dapat dipertahankan, akan tetapi apabila janin mengalami kematian,
maka dapat terjadi abortus spontan. Penentuan kehidupan janin dapat dilakukan
dengan pemeriksaan USG (Ultrasonografi) untuk melihat gerakan dan denyut jantung
janin. Denyut jantung janin dapat juga didengarkan melalui alat Doppler atau
Laennec apabila janin sudah mencapai usia 12 – 16 minggu. Tatalaksana yang
dilakukan meliputi istirahat baring.
Abortus insipiens
Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari rahim
pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya pembukaan leher rahim, namun
janin masih berada di dalam rahim. Pada tahapan ini terjadi perdarahan dari
rahim dengan kontraksi yang semakin lama semakin kuat dan semakin sering,
diikuti dengan pembukaan leher rahim.
Tatalaksana yang dilakukan adalah pengeluaran sisa hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) dengan infus oksitosin, dan / atau dengan kuretase.
Tatalaksana yang dilakukan adalah pengeluaran sisa hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) dengan infus oksitosin, dan / atau dengan kuretase.
Gambar 1. Kuretase
Abortus inkompletus
Pada abortus inkompletus, produk konsepsi (janin) sebagian sudah keluar
akan tetapi masih ada sisa yang tertinggal di dalam rahim. Gejala yang terjadi
adalah keram pada rahim disertai perdarahan rahim dalam jumlah banyak, terjadi
pembukaan, dan sebagian jaringan keluar. Penanganan yang dilaksanakan adalah
mengawasi kondisi ibu agar tetap stabil dan pengeluaran seluruh jaringan hasil
konsepsi yang masih tertinggal di dalam rahim.
Abortus kompletus
Abortus kompletus ditandai dengan pengeluaran lengkap seluruh hasil
konsepsi yang diikuti dengan sedikit perdarahan, dan nyeri. Tatalaksana yang
dilakukan adalah peningkatan keadaan umum ibu.
Missed abortion
Pada kasus missed abortion, kematian janin terjadi tanpa adanya
pengeluaran dari hasil konsepsi. Alasan mengapa janin yang meninggal tidak
keluar masih belum jelas. Biasanya didahului dengan tanda dan gejala abortus
imminens yang kemudian menghilang spontan atau menghilang setelah
pengobatan. Tes kehamilan menjadi negatif, tanda-tanda kehamilan tidak ada, dan
denyut jantung janin tidak dapat terdeteksi.
Abortus terapeutik
Abortus yang dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu atas
pertimbangan kesehatan wanita, dimana apabila kehamilan itu dilanjutkan akan
membahayakan dirinya. Misalnya pada wanita dengan kelainan jantung. Dapat juga
dilakukan atas pertimbangan kelainan janin yang berat.
Abortus septik
Abortus spontan dapat diikuti dengan komplikasi infeksi. Infeksi dapat
terjadi akibat tindakan abortus yang tidak sesuai dengan prosedur (misalnya oleh
dukun). Infeksi yang terjadi pada umumnya endometritis, yang bisa berkembang menjadi parametritis dan peritonitis.
Abortus berulang
Abortus berulang adalah abortus yang terjadi sebanyak 3 kali atau lebih
pada 3 bulan pertama kehamilan. Abortus berulang primer terjadi pada wanita yang
belum pernah memiliki anak yang hidup sebelumnya. Abortus berulang sekunder
adalah abortus yang terjadi pada wanita yang sebelumnya sudah pernah memiliki
anak lahir hidup.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan USG, pemeriksaan
darah, dan pemeriksaan hormonal kadar B-hCG.
Tatalaksana pasca abortus
Pemeriksaan untuk mencari penyebab abortus spontan dengan menggunakan
USG atau kadar B-hCG selama 1-2 bulan berikutnya. Sesudah mengalami abortus, ibu
dianjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu gunakan
kontrasepsi kondom atau pil).
Wednesday, July 25, 2012
Pneumonia
Pneumonia
Definisi
Pnemonia
adalah peradangan yang mengenai parenkim (jaringan) paru, pada bagian terjauh
dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli,
serta menimbulkan konsolidasi (saling menempel) jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat.
Terjadinya
pnemonia bergantung pada banyaknya kuman, tingkat kemudahan dan luasnya daerah
paru yang terkena serta daya tahan tubuh. Adapun yang merupakan faktor
predisposisi antara lain kebiasaan merokok, pasca infeksi virus, penyakit
jantung kronik, diabetes mellitus, keadaan
imunodefisiensi, kelainan atau kelemahan
struktur organ dada serta penurunan kesadaran.
Penyebab
Pnemonia
disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, penyebab terseringnya adalah bakteri
(S.pneumonia, H.influenza, S.aureus, P.aeruginosa, M.tuberculosis,
M.kansasii, dsb), namun dapat juga disebabkan oleh jamur (P.carinii,
C.neoformans, H.capsulatum, C.immitis, A.fumigatus,dsb), protozoa
(toksoplasma) serta virus (CMV, herpes simpleks).
Kuman
penyebab biasanya berbeda di antara satu daerah dengan daerah lainnya, juga
berkaitan dengan interaksi faktor-faktor terjadinya infeksi, cara terjadinya
infeksi serta perubahan keadaan pasien seperti gangguan sistem imun, adanya
penyakit kronik, polusi lingkungan dan juga penggunaan antibiotik yang tidak
tepat.
Gejala
dan Tanda
Gejala
klinis yang dapat ditemukan dapat ringan, fulminan (berat), bahkan fatal. Adanya
demam, batuk nonproduktif (tidak berdahak) ataupun produktif (berdahak) dengan
sputum purulen (kekuningan), nyeri dada pleuritik (dipengaruhi oleh pernapasan),
menggigil, rigor, serta nafas yang pendek adalah gambaran yang sering ditemukan.
Selain itu dapat juga ditemukan pasien dengan keluhan nyeri kepala, mual,
muntah, diare, mialgia (nyeri otot), arthralgia (nyeri sendi) serta fatigue
(kecapaian).
Tanda-tanda yang sering timbul
adalah takipneu (frekuensi bernafas >20x/menit), takikardi (denyut nadi
>100x/menit).
Pemeriksaan
Tambahan
Pada
pemeriksaan laboratorium rutin, umumnya ditemukan leukositosis (peningkatan
jumlah leukosit dalam darah) pada infeksi bakteri. Leukosit (sel darah putih)
normal atau rendah dapat disebabkan oleh infeksi virus atau mikoplasma, atau
dapat juga terjadi pada infeksi yang berat sehingga tidak terjadi respon
leukosit, atau pada orang tua, lemah atau dengan kegagalan sistem
imun.
Pemeriksaan lain yang dilakukan
adalah pemeriksaan biakan bakteri atau agen penyebab lainnya. Bahannya bisa
berasal dari dahak, darah, atau jaringan paru. Selain itu juga dilakukan kultur
kuman yang bermanfaat untuk pra terapi dan evaluasi terapi
selanjutnya.
Tata
Laksana
Terapi
yang diberikan pada pasien pnemonia adalah terapi kausal (penyebab) terhadap
kuman penyebab sebagai terapi utama, serta terapi suportif umum. Terapi kausal
misalnya antibiotik secara empiris seperti ampislin-sulbaktam, amoksisilin/asam
klavulanat, sefalosporin generasi II pada pnemonia komunitas, sefalosporin
generasi III atau antipseudomonas pada pnemonia nosokomial, antijamur golongan
azol pada pnemonia karena jamur, kotrimoksazol atau dapson pada pnemonia karena
P.carinii, serta makrolid, doksisiklin atau fluorokuinolon pada pnemonia
atipik.
Adapun
terapi suportif yang diberikan disesuaikan dengan keadaan pasien, misalnya
pemberian terapi O2 (oksigen), terapi inhalasi pada dahak yang
kental, fisioterapi dada untuk pengeluaran dahak, pengaturan cairan, dan terapi
lain yang dibutuhkan.
Malaria
Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh protozoa dari
genus Plasmodium. Pada manusia, terdapat empat spesies penyebab malaria,
yaitu P. falciparum, P. vivax, P. ovale, P. Malaria.
Penyebaran alami parasit malaria disebabkan oleh nyamuk Anopheles
betina yang hidup terutama di daerah pantai . Namun, parasit dapat pula
disebarkan oleh melalui pembuluh darah seperti tranfusi darah, penggunaan jarum
bersama oleh pecandu narkoba, maupun penularan dari ibu ke janin yang
dikandungnya.
Plasmodium falciparum adalah penyebab sekitar 85% malaria di dunia dan
merupakan penyebab malaria yang paling berat.
Gejala
dan Tanda
Gejala kliniknya dikenal sebagai trias malaria yang terdiri dari
demam, anemia dan pembesaran limpa.
Gejala klinik mungkin didahului dengan sakit kepala, lemah, nyeri otot dan nyeri
tulang.
Berat/ringannya gejala yang ditimbulkan malaria tergantung pada jenis plasmodium penyebab infeksi. Seperti
uraian sebelumnya, terdapat 4 jenis plasmodium yang menyebabkan malaria pada
manusia. Keempat jenis plasmodium ini memberikan waktu demam yang berbeda-beda
tergantung jenis penyebab.
Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana menyebabkan demam hari ke-3.
plasmodium malariae penyebab malaria kuartana menyebabkan demam hari ke-4,
sementara plasmodium ovale memberikan infeksi paling ringan dan sering sembuh
spontan tanpa pengobatan. Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika menyebabkan demam
tiap jam ke-24 atau 48 dan cenderung tidak menentu. Malaria tropika merupakan
yang paling ganas dan berbahaya. Hal ini disebabkan parasit ini mudah resisten
terhadap berbagai pengobatan.
Secara umum gejala yang ditimbulkan adalah menggigil, demam, dan berkeringat.
Pengobatan
Pada dasarnya penyakit malaria ini dapat disembuhkan secara total dengan
menggunakan obat-obatan. Sampai saat ini klorokuin masih menjadi obat lini pertama untuk
pengobatan ke-dua jenis spesies yang ada di Indonesia dengan alasan biayanya
yang murah, keamanan, dan ketersediaan obat di seluruh Indonesia. Obat yang sering dipakai ada 2 macam yaitu klorokuin dan primakuin. Klorokuin dan primakuin digunakan sebagai terapi supresi malaria akut.
Kedua obat ini dapat digunakan untuk profilaksis sebelum anda berpergian ke daerah endemik malaria.
Terdapat dua bentuk obat klorokuin yaitu Tablet (oral) dan suntik
(parenteral).
Untuk malaria vivax , pengobatan awal diberikan 600 mg ( 4 tablet) dosis
tunggal atau 10 mg/kg BB, enam jam kemudian 300 mg (2 tablet) atau 5 mg/kg BB.
Pada hari kedua dan ketiga diberikan lagi 300 mg/hari ( 2 tablet) atau 5
mg/kgBB.
Untuk profilaksis diberikan 300 – 600 mg sekali seminggu, dimulai 1
minggu sebelum masuk daerah endemik dan diteruskan sampai 4 minggu meninggalkan
daerah tersebut.
Hipertensi
Hipertensi
Definisi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah. Yang dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, gangguan anak ginjal, dll.
Tekanan darah adalah menunjukkan keadaan di mana tekanan yang dikenakan oleh darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh. Tekanan darah dapat dilihat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya ditunjukkan dengan angka seperti berikut - 120 /80
mmHg. Angka 120 menunjukkan tekanan pada pembuluh arteri ketika jantung berkontraksi. Disebut dengan tekanan sistolik. Angka 80 menunjukkan tekanan ketika jantung sedang berelaksasi. Disebut dengan tekanan diastolik. Sikap yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah dalam keadaan duduk atau berbaring.
Gejala dan Tanda
Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terus menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi.
Oleh karena itu, hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, yang dapat dilakukan pada waktu check-up kesehatan atau saat periksa ke dokter. Biasanya dokter akan memeriksa dua kali atau lebih sebelum
menentukan ada terkena tekanan darah tinggi atau tidak. Apabila pada kesempatan tersebut tekanan darah anda diatas 130/90 mmHg maka akan
didiagnosa sebagai hypertensi (tekanan darah tinggi).
Tekanan darah tinggi (hipertensi) menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal..Tanpa melihat usia atau jenis kelamin ,semua orang bisa terkena penyakit jantung dan biasanya tanpa ada gejala-gejala sebelumnya.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa.
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.
Target kerusakan organ akibat Hipertensi antara lain:
Otak : menyebabkan
stroke
Mata : menyebabkan retinopati hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan
Jantung : menyebabkan penyakit jantung koroner (termasuk infark jantung), gagal jantung
Ginjal : menyebabkan penyakit ginjal kronik, gagal ginjal
terminal
Klasifikasi tekanan darah pada dewasa
Kategori
Tekanan darah sistolik
Tekanan darah diastolik
dibawah
120 mmhg
dibawah 80
mmhg
Prehipertensi
130-139 mmhg
80-89 mmhg
Hipertensi
stadium 1
140-159 mmhg
90-99 mmhg
Hipertensi
stadium 2
≥ 160 mmhg
≥ 100 mmhg
Pemeriksaan Laboratorium
Tujuan pemeriksaan laboratorium pada pasien hipertensi
:
Untuk mencari kemungkinan penyebab Hipertensi sekunder
Untuk menilai apakah ada penyulit dan kerusakan organ
target
Untuk memperkirakan prognosis
Untuk menentukan adanya faktor-faktor lain yang mempertinggi risiko penyakit jantung koroner dan stroke
Pemeriksaan laboratorium untuk hipertensi ada 2 macam yaitu :
Panel Evaluasi Awal Hipertensi : Pemeriksaan ini dilakukan segera setelah didiagnosis Hipertensi, dan sebelum memulai pengobatan
Panel Hidup Sehat dengan Hipertensi
: Untuk memantau
keberhasilan terapi
Tata Laksana
Langkah awal terpenting adalah agar menurunkan tekanan darah anda dengan mengikuti gaya hidup sehat seperti aktif berolahraga, mengatur diet atau pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alkohol dan rokok. dan mengkonsumsi obat sesuai dengan petunjuk dokter. Selain itu
dianjurkan juga untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dengan panel evaluasi awal hipertensi atau panel hidup sehat dengan hipertensi.
Obat-obatan yang diberikan sesuai dengan klasifikasi yang ada diatas. Contoh obat-obatan yang dapat diberikan adalah.
Diuretik. Penghambat reseptor
b
Penghambat EKA
Antagonis reseptor AII
Penghabat kalsium
Antagonis aldosteron
Secara umum obat-obatan diatas dapat diberikan ke semua stadium hipertensi dengan atau tanpa komplikasi. Dapat juga dikombinasikan antara obat satu dengan lainnya (misalnya; untuk hipertensi grade 2 diberikan diuretik dengan penghambat EKA atau penghambat reseptor AII atau penghambat kaslsium) kombinasi ini diberikan sesuai dengan tubuh penderita. Maka sangat penting untuk melakukan pemeriksaan rutin tekanan darah minimal 1 kali sebulan untuk memonitor khasiat obat
Artritis Reumatoid (Rematik)
Artritis Reumatoid
(Rematik)
Definisi
Artritis
Reumatoid (AR) salah satu dari beberapa penyakit rematik adalah suatu penyakit
otoimun sistemik yang menyebabkan peradangan pada sendi. Penyakit ini ditandai
oleh peradangan sinovium yang menetap, suatu
sinovitis proliferatifa kronik non spesifik.
Dengan berjalannya waktu, dapat terjadi erosi tulang, destruksi (kehancuran)
rawan sendi dan kerusakan total sendi. Akhirnya, kondisi ini dapat pula mengenai
berbagai organ tubuh.
Penyakit
ini timbul akibat dari banyak faktor mulai dari genetik (keturunan) sampai pada
gaya hidup kita (merokok). Salah satu teori nya adalah akibat dari sel darah
putih yang berpindah dari aliran darah ke membran yang berada disekitar
sendi.
Faktor
risiko yang akan meningkatkan risiko terkena nya artritis reumatoid
adalah;
- Jenis
Kelamin.
Perempuan
lebih mudah terkena AR daripada laki-laki. Perbandingannya adalah
2-3:1.
- Umur.
Artritis
reumatoid biasanya timbul antara umur 40 sampai 60 tahun. Namun penyakit ini
juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak (artritis reumatoid
juvenil)
- Riwayat
Keluarga.
Apabila
anggota keluarga anda ada yang menderita penyakit artritis rematoid maka anda
kemungkinan besar akan terkena juga.
- Merokok.
Merokok
dapat meningkatkan risiko terkena artritis reumatoid.
Gejala
dan Tanda
Gejala dan
tanda dari AR dapat dilihat sebagai berikut;
- Nyeri
sendi
- Pembengkakan
sendi
- Nyeri
sendi bila disentuh atau di tekan
- Tangan
kemerahan
- Lemas
- Kekakuan
pada pagi hari yang bertahan sekitar 30 menit
- Demam
- Berat
badan turun
Artritis
reumatoid biasanya menyebabkan masalah dibeberapa sendi dalam waktu yang sama.
Pada tahap awal biasanya mengenai sendi-sendi kecil seperti, pergelangan tangan,
tangan, pergelangan kaki, dan kaki. Dalam perjalanan penyakitnya, selanjutnya
akan mengenai sendi bahu, siku, lutut, panggul, rahang dan
leher.
Pemeriksaan
Tambahan
Pemeriksaan tambahan yang dapat
dilakukan adalah pemeriksaaan darah rutin. Orang dengan RA pemeriksaan rasio
sedimen eritrosit (ESR) cenderung meningkat, pemeriksaan ini dapat
memperlihatkan adanya proses peradangan dalam tubuh. Pemeriksaan darah lain yang
biasa nya dilakukan adalah pemeriksaan antibodi seperti faktor rheumatoid dan
anti-CCP.
Selain itu
juga dapat dilakukan analisa cairan sendi. Dokter anda akan mengambil cairan
sendi dengan menggunakan jarum steril, lalu cairan sendi akan dianalisa apakah
terdapat peningkatan kadar leukosit atau tidak dan juga dapat menyingkirkan
kemungkinan penyakit rematik lainnya.
Pemeriksaan foto rontgen
dilakukan untuk melihat progesifitas penyakit RA. Dari hasil foto dapat dilihat
adanya kerusakan jaringan lunak maupun tulang. Pemeriksaaan ini dapat memonitor
progresifitas dan kerusakan sendi jangka panjang.
Tata
Laksana
Penyakit
rheumatoid arthritis tidak dapat disembuhkan. Tujuan dari pengobatan adalah
mengurangi peradangan sendi untuk mengurangi nyeri dan mencegah atau
memperlambat kerusakan sendi. Secara umum pengobatan yang dapat dilakukan adalah
pemberian obat-obatan dan operasi.
Dibawah
ini adalah contoh-contoh obat yang dapat diberikan;
- NSAIDs.
Obat anti-infalamasi nonsteroid (NSAID) dapat mengurangi gejala nyeri dan
mengurangi proses peradangan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah ibuprofen
dan natrium naproxen. Golongan ini mempunyai risiko efek samping yang tinggi
bila di konsumsi dalam jangka waktu yang lama.
- Kortikosteroid. Golongan
kortikosteroid seperti prednison dan metilprednisolon dapat mengurangi
peradangan, nyeri dan memperlambat kerusakan sendi. Dalam jangka pendek
kortikosteroid memberikan hasil yang sangat baik, namun bila di konsumsi dalam
jangka panjang efektifitasnya berkurang dan memberikan efek samping yang
serius.
- Obat
remitif (DMARD). Obat ini diberikan untuk pengobatan jangka panjang. Oleh karena
itu diberikan pada stadium awal untuk memperlambat perjalanan penyakit dan
melindungi sendi dan jaringan lunak disekitarnya dari kerusakan. Yang termasuk
dalam golongan ini adalah klorokuin, metotreksat salazopirin, dan garam
emas.
Pembedahan
menjadi pilihan apabila pemberian obat-obatan tidak berhasil mencegah dan
memperlambat kerusakan sendi. Pembedahan dapat mengembalikan fungsi dari sendi
anda yang telah rusak. Prosedur yang dapat dilakukan adalah artroplasti,
perbaikan tendon, sinovektomi.
Asma
Asma
Definisi
Asma
adalah penyakit kronis (berlangsung lama) yang ditandai oleh sesak napas
disertai bunyi ngik-ngik (mengi) dan / atau batuk persisten dimana derajat
keparahan setiap orang berbeda-beda. Pada saat serangan yang terjadi adalah
menyempitnya jalan napas kita akibat dari pengerutan bronkus yang menyebabkan
udara sulit keluar masuk paru.
Penyebab
dari asma belum sepenuhnya dimengerti. Namun faktor risiko yang dapat
mencetuskan timbulnya asma adalah, alergen (zat yang menyebakan alergi),infeksi,
cuaca, kegiatan jasmani dan iritan. Asma tidak dapat disembuhkan, namun dapat di
kontrol dengan tata laksana yang tepat.
Penyebab
dari asma belum sepenuhnya dimengerti , beberapa zat atau bahan yang dapat
mencetuskan timbulnya serangan adalah;
- Benda-benda dalam ruangan
(tungau debu rumah dalam kasur, karpet, dan perabotan kotor dan bulu
binatang)
- Benda-benda di luar ruangan
(polusi, asap buangan pabrik)
- Asap
rokok
- Refluks
gastroesofagus (sering muntah)
- Udara
dingin, emosi yang berlebihan seperti marah atau ketakutan dan olahraga juga
dapat mencetuskan serangan asma. Bahkan beberapa obat seperti aspirin dan obat
anti inflamasi lainnya dan beta bloker juga dapat mencetuskan
serangan.
Faktor Pencetus Serangan Asma
A. Faktor penjamu, faktor pada
pasien
- Aspek
genetik ( keluarga)
- Kemungkinan
alergi
- Saluran
napas yang memang mudah terangsang
- Jenis
kelamin
- Ras/etnik
B. Faktor lingkungan
- Bahan-bahan di dalam ruangan :
- Tungau
debu rumah
- Binatang,
kecoa
- Tungau
debu rumah
- Bahan-bahan di luar ruangan
- Tepung
sari bunga
- Jamur
- Tepung
sari bunga
- Makanan-makanan tertentu, Bahan
pengawet, penyedap, pewarna makanan
- Obat-obatan
tertentu
- Iritan
(parfum, bau-bauan merangsang, household spray )
- Ekspresi
emosi yang berlebihan
- Asap rokok
dari perokok aktif dan pasif
- Polusi
udara dari luar dan dalam ruangan
- Infeksi
saluran napas
- Exercise
induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik
tertentu.
- Perubahan
cuaca
Gejala dan Tanda
Secara
umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang
berbunyi ngik-ngik (mengi) dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari
menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang
kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai faktor lainnya.
Penderita
asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat
mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang
menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas, dan batuk, khususnya
pada malam atau dini hari. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan
yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang
dirpoduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk
mengeluarkan dahak tersebut.
Salah satu
ciri asma adalah hilangnya keluhan di luar serangan. Artinya, pada saat
serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak
napas hebat dan bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia
sehat-sehat saja.
Tata
Laksana
Perlu
diberikan edukasi, antara lain mengenai pathogenesis asma, peranan terapi asma,
jenis-jenis terapi yang tersedia, serta faktor pencetus yang perlu dihindari.
Pastikan pasien menggunakan alat untuk terapi inhalasi yang sesuai. Secara umum,
terdapat dua jenis obat dalam penatalaksanaan asma, yaitu obat pengendali
(controller) dan pereda (reliever). Obat pengendali merupakan profilaksis
serangan yang diberikan tiap hari, ada atau tidak ada serangan/ gejala,
sedangkan obat pereda adalah yang diberikan saat serangan.
Pengobatan
asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan obat pelega saluran
pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan
asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya
serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi
untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan mengurangi
pembengkakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)